Sejarah Desa
Perjalanan dan asal-usul Desa DENANYAR dari masa ke masa.
Sejarah Singkat Desa DENANYAR
Tertulis / terdengar cerita daerah pedesaan yang subur, tumbuhan yang menghijau, di atas tanah yang berbukit-bukit di tumbuhi pohon dan semak yang masih lebat, hiduplah 3 kelompok masyarakat rukun dan damai meskipun penduduk dalam kehidupan prinitif yaitu Karang, Dulang Rejo, dan Pule orang menyebutnya. 25 Km dari arah timur ke utara dari kota Sragen. Konon desa Denanyar merupakan kumpulan dari 3 dusun tersebut dari desa Karang dan sampai saat ini letaknya berada di sebelah utara dari dukuh Doplang menjadi Kebayanan Karang.
Desa Denanyar lama-kelamaan menjadi ramai dengan adanya pendatang dari Desa Kembangan yang ingin menetap dan tinggal di desa itu. Tak kalah lagi desa Denanyar sudah terkenal di kalangan penduduk atau desa sekitar bahkan terdengar sampai keluar kota kabupaten.
Konon pada Tahun 1918 di desa ini ada 4 Kelurahan Kadukuhan: Lurah Karang Mbah Sumo Muning, Lurah Dulang Rejo Mbah Lurah Dongkol, Lurah Pule dan Lurah Keprabon Mbah Ranu Driyo / Mbah Kencik yang pada waktu itu belum ada pemilihan kades sehingga atas dasar mayoritas pilihan masyarakat.
Pada suatu hari datanglah Abdi Dalem Kraton Kasunanan Surokarto Hadiningrat yaitu Nayoko Projo dengan memacu kuda (Juru Penagih Pajak) utusan Kanjeng Pangeran Mangkubumi ke tempat Lurah Kasepuhan Mbah Ranu Driyo untuk minta izin menagih pajak Dusun Dulang Rejo. Lalu datang di tempat Mbah Salikin untuk menagih pajak, dan kuda tersebut diikat pada pohon di pekarangannya, lalu masuk di rumahnya Kepala Dusun Salikin secara tidak pakai aturan yaitu kencing di atas tempat tidur. Mungkin saking jengkelnya juru penagih pajak tersebut kepada Mbah Salikin yang belum bisa setor pajak di dukuhnya, akhirnya terjadi percekcokan hingga didengar warga.
Namun beberapa saat kemudian datanglah beberapa orang yang tidak dikenal secara tiba-tiba mengeroyok dan membunuh Nayoko Projo tersebut dan kuda yang diikat di pekarangan Mbah Salikin langsung dilepaskan lalu dengan sendirinya telah sampai ke Kraton Surokarto Hadiningrat. Mayatnya juga masih misteri termasuk pembunuhnya juga menghilang secara misterius. Bahkan Lurah Kesepuhan juga bertekat untuk menyelidiki kejadian tersebut namun siapa pembunuh Nayoko Projo tersebut juga tidak diketahui karena secara gaib tiba-tiba menghilang.
Dari hari ke hari cerita ini tersebar ke seluruh manca desa. Banyak orang penasaran atas cerita ini, sehingga tidak sedikit orang ingin membuktikannya. Karena kegemparan cerita ini sehingga beritanya terdengar sampai ke Kraton Kasunanan Surokarto Hadiningrat. Tak hayal lagi para pejabat pada saat itu ingin membuktikannya dengan disertai para punggawa (Prajurit) untuk membuktikan kebenarannya namun beberapa orang pembunuh tersebut tidak diketahui keberadaannya. Dan Mbah Salikin juga tidak diketahui keberadaannya lalu datang ke tempatnya Lurah Kadukuhan Mbah Dongkol juga tidak mengetahui peristiwa tersebut pada saat itu.
Akhirnya punggawa kembali ke kraton dan melaporkan ke Pangeran Mangkubumi. Menurut cerita dari masyarakat bahwa Nayoko Projo Kraton tersebut tidak punya unggah-ungguh pada masyarakat, akhirnya Pangeran memakluminya dan sambil menyebut "Dadi Wong Edan Anyar" karena sang juru tagih pajak kurang sopan santun dan masyarakatnya juga tidak tahu dengan adanya pembunuhan kepada Nayoko Projo tersebut. Sehingga Pangeran Mangkubumi menyebutnya dusun tersebut dengan DESA DENANYAR yang berasal dari Edan Anyar.
Setelah kejadian itu desa Denanyar makin termasyur namun bukan Dulang Rejonya tetapi kata Wong Edan Anyar yang identik dengan sebutan DENANYAR. Kepopuleran Denanyar menenggelamkan nama Dusun Karang, Dulang Rejo, dan Pule sehingga oleh Lurah Kasepuhan bersama para tokoh masyarakat pada saat itu 4 dusun tersebut dijadikan 1 kelurahan oleh 3 lurah kadukuhan tersebut namun 2 dusun tadi masih tetap nama dusunnya tetapi gabung menjadi satu kelurahan dengan nama Desa "DENANYAR".
Tradisi yang muncul setiap tahun yaitu acara adat dan gotong royong merupakan setiap saat dilakukan oleh semua warga masyarakat. Pada tahun 1921 an pusat kelurahan beralih ke Dusun Asem Rejo (sekarang Dukuh Doplang) dan pertama kalinya diadakan Piludes. Lurah Desanya sesuai hasil dari Piludes yaitu Mbah Ranu Driyo / Mbah Kencik, karena pada waktu itu Mbah Ranu Driyo merupakan calon sosok pemimpin yang baik dan bijaksana sehingga oleh masyarakat sebelum diadakan piludes menjadi tokoh panutan yang berwibawa.
Pada saat itulah Desa Denanyar dibagi 10 kadukuhan yaitu Doplang, Sanggrahan, Karang, Teplokan, Denanyar (Dulang Rejo), Ngunut, Towo, Ngledok, Nggarut dan Pule dan terbagi 4 wilayah kepala dusun yaitu Kadus Doplang (Doplang, Ledok dan Sanggrahan), Kadus Karang (Karang dan Teplokan), Kadus Ngunut (Denanyar, Ngunut dan Nggarut), Kadus Towo (Towo dan Pule) dan diberlakukan sampai sekarang ini.